Alpen Steel | Renewable Energy

~ Energi Mikro Hidro Masih Jadi Tumpuan

Energi Mikro Hidro Masih Jadi Andalan

Ketika ketergantungan terhadap bahan bakar minyak semakin tinggi, justru semakin sulit menemukan pembangkit yang bebas energi fosil itu. Sekarang ini pembangkit alternatif sudah semakin langka, seperti pembangkit listrik tenaga angin, tenaga pasang surut atau gelombang laut, kebanyakan semua sudah tinggal kenangan dan mungkin hanya tenaga mikro hidro yang masih bertahan.

Hari masih pagi, beberapa penduduk Desa Nanggeleng, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung, bergotong royong memasang pipa-pipa air. Wajah mereka berseri-seri. Mereka tidak lagi kesulitan air.

Sebuah pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) sudah berhasil dioperasikan untuk menggerakkan pompa yang mengalirkan air dari bawah lembah sedalam 70 meter ke bak-bak penampung di desa. Jarak desa dengan lembah sekitar 500 meter. Sebelumnya, masyarakat harus memikul air bersih dari tempat-tempat yang jauh.

Masyarakat mengumpulkan uang untuk bisa membeli turbin mikro hidro seharga Rp 10 juta atau Rp 100 per keluarga. Koperasi di desa itu juga meminjam Rp 38 juta dari sebuah kelompok masyarakat untuk membuat rumah pembangkit. Mereka juga mendapat bantuan dari perusahaan Jerman untuk membangun saluran air, bak penampungan air, dan sistem pendistribusiannya ke rumah-rumah.

”Sekarang air yang mengalir sangat mencukupi masyarakat,” kata Wahyudin (35), Manajer Koperasi Kredit Warna Mekar Kecamatan Cipeundeuy. PLTMH di desa tersebut memproduksi listrik sekitar 6.000 watt. Untuk menggerakkan pompa hanya dibutuhkan listrik sekitar 3.000 watt, listrik sisanya terpaksa tidak dimanfaatkan.

”Agar listrik tidak terbuang, koperasi sedang mempersiapkan pabrik tapioka karena produksi singkong di desa ini mencapai beberapa ton per bulan,” ujar Wahyu.

Tidak hanya masyarakat desa, siswa sekolah pun antusias mempelajari mikro hidro. ”Ternyata asyik juga belajar energi, tidak serumit teorinya,” kata Wasrif (16), pelajar Madrasah Aliyah Asih Putra, Cimahi, yang ditemui di Sarana Percontohan dan Laboratorium Pengujian PLTMH di Kota Cimahi. >f 9003<

PLTMH adalah pembangkit listrik tenaga air yang menghasilkan listrik kurang dari 100 kilowatt (kW) dan dapat dikerjakan oleh masyarakat secara bergotong royong.

Menurut Faisal Rahadian, Sekretaris Umum Asosiasi Hidro Bandung (AHB), komponen PLTMH sudah banyak diproduksi di Indonesia. Bahkan, anggota masyarakat desa berpendidikan SD pun bisa dilatih untuk mengoperasikannya.

Biasanya PLTMH dibangun di pelosok-pelosok desa yang belum teraliri listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan memiliki potensi air sungai cukup baik, misalnya di pegunungan. Namun, di daerah datar dan perkotaan PLTMH bisa dibuat dengan rekayasa.

Menurut Yudi Ardi Nugraha, staf lapangan dari PT Entec Indonesia yang bergerak dalam proyek-proyek pembuatan mikro hidro, sebuah PLTMH biasanya dibuat dekat sungai atau saluran irigasi. Air sungai dialirkan pada satu saluran menuju kolam penenang untuk menyaring sampah dan pasir.

Air di kolam penenang diterjunkan pada turbin yang berada pada rumah pembangkit. Aliran air akan menggerakkan komponen dalam turbin dan generator yang kemudian menghasilkan listrik.

Menjanjikan

Menurut Gerhard Fischer, Managing Director PT Entec Indonesia, energi mikro hidro sangat menjanjikan di masa depan, tidak hanya untuk Indonesia, tapi juga untuk dunia. Sebab, menggunakan energi mikro hidro sama artinya dengan menjaga kelestarian alam karena kapasitas listrik dari PLTMH ditentukan oleh keberadaan air. Makin besar debit dan beda tinggi air yang diterjunkan, makin besar tenaga listrik yang dihasilkan.

Agar pasokan listrik tetap terjaga, masyarakat harus melestarikan hutan di sekitarnya agar air sungai selalu tersedia. Sementara itu, penambangan dan penggunaan energi dari fosil menghasilkan polusi. Ongkos yang ditanggung dari pencemaran lingkungan jauh lebih tinggi daripada membangun PLTMH, apalagi pada pengoperasiannya PLTMH relatif sangat murah.

Menurut Eddy Permadi, pengusaha turbin mikro hidro yang sering mendukung proyek pemerintah dalam menyalurkan listrik pada desa-desa terpencil, pembangunan PLTMH membutuhkan biaya sekitar Rp 15 juta per 1.000 watt. Biasanya masyarakat desa hanya membutuhkan 50 watt per keluarga.

Dalam sebulan, ongkos perawatannya sekitar Rp 20.000. Ongkos bisa ditanggung seluruh masyarakat. Perawatan terbesar dilakukan lima tahun sekali dengan biaya tidak lebih dari Rp 2 juta.

Energi mikro hidro sudah hadir di Indonesia sejak awal tahun 1900. Belanda selalu membangun perkebunan teh di daerah-daerah yang dialiri sungai agar bisa membangun PLTMH yang listriknya digunakan oleh pabrik-pabrik teh.

Ada 400 PLTMH di Jawa yang dibangun Belanda dengan kapasitas sekitar 12,75 megawatt (MW). Saat disurvei oleh AHB pada tahun 1998 di Jabar, sebanyak 20 pembangkit masih dipakai, 10 rusak, 10 tidak beroperasi, dan enam diperbarui.

Turbin yang digunakan di perkebunan Negara Kanaan dibuat tahun 1885. Beberapa PLTMH di perkebunan teh tidak digunakan lagi karena beberapa alasan, salah satunya pemilik perkebunan beralih ke solar karena harga solar yang sangat murah beberapa tahun lalu.

Namun dengan harga solar yang terus naik saat ini, penggunaan PLTMH menjadi lebih menjanjikan. Apalagi potensi air di Indonesia sangat besar. PLTMH dapat dibangun hampir di seluruh daerah di Indonesia, namun baru sedikit yang membangun PLTMH.

Menurut Sentanu Hindrakusuma, Ketua AHB, PLTMH akan makin menarik jika PLN membeli listrik rakyat dengan harga yang cukup menarik. ”Daripada untuk menyubsidi bahan bakar minyak (BBM), lebih baik digunakan untuk menyubsidi pembelian energi listrik dari rakyat,” kata Sentanu.

Sekarang PLN membeli listrik rakyat dengan harga sekitar Rp 120 per kilowatt hour (kWh). Sementara harga jual PLN ke rumah tangga Rp 450 per kWh. Jika PLN bisa menghargai listrik rakyat Rp 600 per kWh, rakyat pasti tertarik dan Indonesia tidak perlu cemas krisis energi.

Di Mojokerto

Proyek listrik mandiri serupa juga dikerjakan di kawasan Jawa Timur. Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. PPLH telah memanfaatkan aliran Sungai Kalimaron sebagai pembangkit listrik PLTMH. Bahkan, aktivitas ini bisa memenuhi kebutuhan listrik di beberapa dusun desa tersebut.

Debit air sungai di Kalimaron dianggap cukup stabil sekalipun pada musim kemarau, yakni sekitar 300 liter per detik. Atas kerja sama dan bantuan dari Global Environmental Facility-Small Grand Project (GEF-SGP), lembaga peduli lingkungan hidup dari Perancis, PLTMH tersebut dapat diimplementasikan.

Keberadaan PLTMH sejak tahun 1994 bagi warga Dusun Janjing dan Sempur sangat membantu. Sekitar 48 keluarga bisa menghemat penggunaan bahan bakar minyak yang semula digunakan untuk penerangan dan menggerakkan diesel.

Ketua PPLH Suroso mengungkapkan, listrik yang dihasilkan oleh PLTMH saat ini 23 kWh per bulan atau 276 kWh per tahun. Dengan keberadaan PLTMH, masyarakat dapat menghemat BBM sebesar 69.000 liter per tahun, apabila semua penerangan dan mesin di dusun tersebut menggunakan minyak diesel.

Banyak energi terbarukan dan alternatif yang bisa dikelola dan dimanfaatkan oleh masyarakat secara swadaya. Namun demikian, proyek untuk mengimplementasikan energi tersebut menjadi pembangkit listrik membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Dukungan pemerintah mutlak diperlukan. Jika tidak mampu mendanainya, bisa memberi kemudahan, termasuk mendatangkan investor. (LIA)

Oleh:Yenti Aprianti

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook