Alpen Steel | Renewable Energy

~ Energi Terbarukan Minimalkan Emisi GRK

Energi Terbarukan Kurangi Emisi GRK

 

Gazali merasakan ada sesuatu yang hilang dari tempat kelahirannya di Ciomas, Bogor. Udara yang dulu sejuk kini berubah menjadi panas dan gerah. Saat kembali dari merantau sepuluh tahun lalu ke Manokwari, Papua, Gazali merasakan udara di kampungnya kian menyengat.

Mikrohidro - Pembangkit listrik tenaga Mikrohidro berhasil mengurangi pemakaian bahan bakar solar, dengan demikian secara tidak langsung mengurangi emisi gas rumah kaca.

Kondisi yang dirasakan Gazali termasuk kondisi global yang kian memanas. Perubahan iklim melahirkan pemanasan global yang dipicu ulah manusia yang kelewat batas. Penggunaan minyak berbahan baku fosil dan penebangan hutan secara serampangan meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca (GRK).

Konsentrasi GRK di atmosfer berwujud karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrogen oksida (N2O). Menurut Deputi Menteri Lingkungan Hidup Bidang Pelestarian Lingkungan, Liana Bratasida, dalam dekade terakhir konsentrasi CO2 meningkat 2.900 juta ton per tahun. Sedangkan pada dekade sebelumnya 1.400 juta ton per tahun.

Sedangkan CH4 justru mengalami penurunan menjadi 22 juta ton per tahun dari dekade sebelumnya sebesar 37 juta ton per tahun. Demikian pula dengan N2O yang turun dari 3,9 juta ton per tahun menjadi 3,8 juta per tahun.

Peningkatan konsentrasi emisi GRK mengakibatkan suhu 0,5 derajat Celsius sejak 1990. Selain itu, pola distribusi hujan pun mengalami perubahan nyata. Ada kecenderungan daerah kering akan menjadi makin kering dan daerah basah menjadi semakin basah. Konsekuensinya, terjadi gangguan pada kelestarian sumber daya air.

Menurut Bratasida, peningkatan suhu menyebabkan pergeseran spesies vegetasi dan ekosistem. Daerah pegunungan akan kehilangan banyak spesies vegetasi aslinya dan digantikan spesies vegetasi dataran rendah. Bersamaan dengan itu kondisi sumber daya air dari pegunungan juga terganggu.

Sementara itu, kawasan pesisir adalah daerah yang paling rentan akibat kenaikan permukaan air laut. Dengan panjang pantai sekitar 80.000 km dan 50 persennya pantai landai, Indonesia sangat rawan akibat kenaikan permukaan laut.

Fakta lain menunjukkan terjadi transmisi beragam penyakit menular akibat perubahan iklim. Parasit dan vektor penyakit sangat peka terhadap faktor-faktor iklim karena perubahan iklim akan meningkatkan transmisinya. Demam berdarah, malaria, dan kaki gajah adalah contoh penyakit yang harus diwaspadai penyebarannya. Tak pelak lagi, pemanasan global telah dan sangat berpotensi membawa dampak yang merugikan.

Protokol Kyoto

Harapan muncul saat ditandatanganinya Protokol Kyoto yang menimbulkan komitmen bersama akan penurunan konsentrasi GRK dunia pada tahun 1997. Sehingga, kini sudah 76 negara yang meratifikasi Protokol Kyoto (PK) dengan 24 di antara mereka adalah negara maju. Negara-negara maju penghasil emisi utama dunia harus menurunkan tingkat emisinya hingga 5,2 persen dibanding dengan tingkat emisi tahun 1990. Batas waktu pun dipatok hingga akhir 2012 nanti.

Persoalannya menurut Koordinator Program Energi Terbarukan Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL), Lolo M Panggabean, nyaris mustahil negara maju mampu menurunkan tingkat emisi mereka. Untuk itu, dirancanglah suatu mekanisme kerja sama dagang dengan negara berkembang melalui Clean Development Mechanism (CDM).

Negara maju siap membeli setiap ton penurunan emisi yang dilakukan negara berkembang. Penurunan emisi CO2 tersebut dijual dalam bentuk certified emission reduction (CER), ujar Lolo.

Secara umum skenario CDM terdiri dari kegiatan di sektor energi melalui energi terbarukan dan energi efisiensi, dan kegiatan di sektor kehutanan melalui reboisasi (reforestation). Hanya saja untuk sektor kehutanan masih banyak hal yang belum disepakati, sehingga pelaksanaannya terhambat.

Agar seluruh komitmen PK bisa terlaksana maka dilakukanlah conference of party (COP) yang membahas hal yang lebih teknis. Di dalam COP itulah aturan main pelaksanaan CDM dibahas dan dipantau pelaksanaannya. Hingga kini tercatat sudah tujuh kali COP dilaksanakan, terakhir di Marrakesh, Maroko tahun 2002.

Negara yang terlibat dalam program CDM harus terlebih dulu meratifikasi PK, ujar Lolo.

Upaya Indonesia sendiri untuk meratifikasi PK masih terhambat di DPR. Meskipun Indonesia belum meratifikasi PK, usaha untuk meningkatkan kesadaran banyak pihak harus tetap dilakukan.

"Upaya tersebut harus didukung oleh peningkatan kemampuan (capacity building), agar tidak tertinggal jauh dari negara lain. Kalau tidak, saat Indonesia meratifikasi PK, tidak banyak manfaat yang bisa diambil," kata Nina Natalina, aktivis YBUL lainnya.

Menyiapkan Diri

Karena itu lanjut Nina, gagasan mengadakan lokakarya peningkatan kapasitas adalah untuk mendorong kesiapan Indonesia. Sehingga, berbagai kalangan di Indonesia bisa bersiap diri untuk menyongsong diberlakukan CDM di Indonesia. Yang terpenting adalah upaya pelurusan pemahaman tentang CDM.

CDM sebetulnya hanya suatu insentif yang diberikan atas pelaksanaan kegiatan pengurangan emisi GRK. Yang dimaksud insentif di situ bahwa dana pembelian REC tersebut hanyalah bonus bagi pengembang proyek. Artinya dana untuk merancang hingga membangunnya dibiayai sendiri. Jika kegiatan tersebut menarik dan berkelanjutan barulah bisa dijual ke negara maju.

"Pada prinsipnya hubungan yang terjadi adalah hubungan dagang bukan pemberian hibah," Ujar Nina. Karena itu, Nina berharap masyarakat tidak salah mengartikannya.

Nina menjelaskan proses turunnya dana CDM tersebut. Misalnya saja perusahaan A mengembangkan energi mikro hidro untuk menghasilkan listrik. Setelah proyek tersebut berjalan, perusahaan mengajukan proposal yang terlebih dulu sudah di validasi oleh badan independen. Setelah itu proposal akan mendapat persetujuan pemerintah dalam arti kriteria baik pengembang maupun proyeknya tepat.

Setelah proyek dilaksanakan, akan dipantau pelaksanaannya untuk kemudian diperiksa oleh badan independen yang berbeda.

Lalu proyek yang dijalankan akan dilakukan sertifikasi dan dibawa ke dewan eksekutif UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change).

Jika semua berjalan lancar, proyek mikrohidro tersebut akan diberi sertifikat CER. Kemudian pemilik dana dari negara maju akan membeli setiap kg emisi CO2 yang diturunkan. Menurut Lolo, harga di pasaran CO2 untuk setiap tiga ton saat ini berkisar U$ US 15.

Sedangkan bagi perusahaan yang mengembangkan proyek berukuran kecil dimungkinkan untuk melakukan merger sesuai dengan nilai proyek. Artinya pengembang proyek bisa membuat proposal bersama dan memasukkan potensi REC untuk digabung menjadi satu.

Dengan demikian, selain mendapat keuntungan dari kegiatan/usaha proyeknya, perusahaan akan mendapat insentif melalui CDM.

Lolo berharap, masyarakat mestinya bisa memanfaatkan CDM. Selain lebih memacu perkembangan energi terbarukan, insentif yang diberikan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Sumber : Suara Pembaruan

Setia Lesmana

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook