Alpen Steel | Renewable Energy

~Indonesia Di Ambang Krisis Energi

Indonesia di ambang krisis energi. Cadangan minyak bumi Indonesia diperkirakan akan habis dalam 11 tahun mendatang. Masalahnya, persoalan ini belum menjadi kesadaran bangsa Indonesia, terutama pemerintah. Akibatnya, belum ada langkah terobosan yang konkret, sistematis, dan terstruktur, baik untuk menghemat energi fosil maupun mengembangkan energi alternatif.

"Kenyataannya, sampai sekarang, melihat cadangan energi berbahan fosil sudah akan habis, gereget atau kemauan menemukan energi baru dan terbarukan belum kelihatan. Saya, kok, takut kita sudah di ambang pintu krisis energi kalau tidak segera diambil tindakan-tindakan," kata Menteri Pertambangan dan Energi periode 1978-1988 Subroto saat berkunjung ke harian Kompas, di Jakarta, Rabu (4/3).

Dalam kesempatan itu, Subroto didampingi Menteri Negara Lingkungan Hidup periode 1993- 1998 Sarwono Kusumaatmadja dan Direktur Utama PT. Energy Management Indonesia (Persero) Aris Yunanto.

Subroto berpendapat, minimnya gereget dalam mencari energi alternatif dan menghemat energi disebabkan belum ada kemauan politik dari pemerintah. Sejauh ini, rencana strategis soal ketahanan energi nasional pun belum jelas.

Menurut Subroto, cadangan minyak Indonesia sekitar 3,7 miliar barrel. Produksi bahan bakar minyak dalam negeri saat ini rata-rata 800.000 barrel per hari. Dengan demikian, tanpa adanya penemuan cadangan minyak baru, cadangan lama diperkirakan akan habis 11 tahun lagi. Pada 1970-an, Indonesia menjadi negara produsen minyak dengan volume produksi 1,7 juta barrel per hari. Namun, pada 2014, produksi hanya 700.000-800.000 barrel per hari

Masalahnya, menemukan cadangan minyak baru dari energi yang tak terbarukan itu semakin sulit, apalagi dengan harga minyak dunia yang rendah saat ini. "Jangan harap ada investasi baru untuk meningkatkan eksplorasi. Jadi, tak mungkin mencapai produksi di atas 1 juta barrel per hari seperti dulu," kata Subroto.

Di sisi lain, Indonesia mempunyai beragam potensi energi alternatif, antara lain panas bumi, tenaga air, tenaga angin, tenaga surya, tenaga gelombang, dan bahan bakar hayati (biofuel). Energi alternatif paling prospektif adalah biofuel dari sawit dan tenaga surya. Namun, rendahnya harga minyak dunia semakin membuat penemuan dan pengembangan energi alternatif sulit. Sebab, harga energi alternatif pada awalnya lebih mahal.

Isu keamanan

Menurut Sarwono, pemerintah mesti menempatkan isu energi, termasuk pangan dan air, sebagai isu keamanan nasional. Dengan demikian, energi benar- benar diprioritaskan dan menjadi perhatian utama dalam kebijakan pemerintah. Ia juga mengingatkan perlunya pengendalian dalam hal konsumsi energi.

Persoalannya, pemerintah selama ini hanya tergerak untuk serius mengendalikan konsumsi saat terjadi tekanan di sektor energi. Namun, ketika tekanan itu longgar, pengendalian kendur lagi sehingga konsumsi kembali boros. "Kalau pemerintah tidak bergerak, usaha-usaha penghematan energi mesti dimulai dari diri kita sendiri," kata Sarwono.

Aris Yunanto menyatakan, Indonesia sudah memiliki protokol krisis di bidang keuangan, tetapi di bidang energi belum ada. Dampaknya, tidak pernah ada ukuran krisis sampai krisis benar-benar terjadi. "Ini berbahaya. Kita baru akan bergerak setelah kondisi mendesak," ujarnya.

Direktur Asosiasi Perminyakan Indonesia Lukman Mahfoedz mengatakan, rendahnya harga minyak dunia tidak boleh mengendurkan semangat untuk mengembangkan energi baru terbarukan. Jika tidak, Indonesia akan selamanya bergantung pada energi fosil yang bakal segera habis.

"Indonesia masih memiliki 29.000 megawatt potensi panas bumi dan baru dimanfaatkan sekitar 5 persen. Penggunaan gas juga harus dioptimalkan karena Indonesia punya cadangan cukup besar, yaitu 103 triliun kaki kubik. Pengembangan energi baru terbarukan harus konsisten meskipun harga minyak dunia lemah," tutur Lukman.

Untuk mengurangi dampak penurunan produksi migas, kata Lukman, pemerintah harus melakukan sejumlah langkah, antara lain proyek-proyek migas dipercepat dengan menghilangkan hambatan-hambatan dalam pelaksanaan proyek dan meningkatkan kegiatan eksplorasi migas hingga tiga kali lipat.

Sumber : Harian Kompas, 5 Maret 2015


Artikel yang berhubungan:
Baca Juga:
Artikel sebelumnya:

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook