Alpen Steel | Renewable Energy

ndustri PLTS Belum Dioptimalkan

Tingginya harga minyak dunia yang melampaui 100 dollar AS per barrel menuntut dilakukannya terobosan energi alternatif. Salah satu teknologi yang telah dikembangkan di Indonesia sejak tahun 1997 adalah pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS. Namun, peluang itu masih terkendala rendahnya dukungan pemerintah untuk menggalakkan pemanfaatan produk dalam negeri.

Demikian diungkapkan Direktur Utama PT LEN Industri Wahyuddin Bagenda, Jumat (25/4) di Bandung. "Pengembangan masih terkendala modal dan pemasaran. Kalau pemerintah serius mengoptimalkan industri PLTS dalam negeri, pasti kekhawatiran pada pemenuhan energi dapat kurangi," kata Wahyuddin.

Menurut Wahyuddin, dalam APBN 2008, wacana pemanfaatan energi terbarukan selalu didengungkan. Bahkan, dana pembelanjaan energi pemerintah menyedot anggaran yang tidak sedikit. "Kebutuhan energi pemerintah naik dari 3 megawatt, kemudian 5 megawatt, dan kini menjadi 7 megawatt. Pembelanjaan energi itu menyedot anggaran sekitar Rp 500 miliar," ujarnya.

Seiring naiknya kebutuhan energi pemerintah pada tahun 2008, PT LEN Industri menaikkan kapasitas produksi dari 1,2 megawatt per tahun menjadi 3 megawatt per tahun. Selain itu, dikembangkan teknologi PLTS untuk rumah tangga yang disebut solar home system. Sampai tahun 2008, lebih dari 50.000 produk berbasis tenaga surya telah dipasang di daerah terpencil di seluruh Indonesia.

Untuk industri

Kepala Bisnis Energi PT LEN Industri Nani Wardani mengatakan, lama penyerapan sinar matahari empat hingga lima jam sehingga solar home system mampu menghasilkan energi berkekuatan 200 watt hingga 250 watt selama 10-12 jam. "Sampai sekarang, kami memproduksi 120.000 unit. Harga satu unit solar home system sekitar Rp 5 juta," katanya.

PT LEN Industri saat ini juga mengembangkan PLTS khusus untuk industri dengan kapasitas 80 kilowatt yang merupakan pilot project. Pengembangan PLTS khusus industri ini dijadwalkan selesai pada Agustus mendatang.

Nani mengakui, dari semua komponen alat PLTS, Indonesia masih tergantung pada impor, khususnya perangkat sel. Namun, kendala itu akan segera teratasi karena PT LEN Industri menganggarkan sekitar Rp 50 miliar untuk pengembangan produksi sel buatan dalam negeri.

Wahyuddin menambahkan, dengan keseriusan dukungan pemerintah dan masyarakat, pengalaman buruk ketergantungan Indonesia pada industri luar negeri, seperti telekomunikasi dan kendaraan bermotor, tidak lagi terulang. "Kebutuhan energi sangatlah strategis. Jangan sampai kebijakan pemerintah justru menguntungkan pihak asing dan negara semakin tergantung," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jawa Barat TB Hisni mengungkapkan, pemenuhan elektrivikasi di Jabar tahun 2007 baru mencapai 61,51 persen. "Elektrivikasi di beberapa daerah masih di bawah 50 persen, bahkan di Kabupaten Cianjur dan Garut terdapat enam kecamatan dan 11 desa yang belum berlistrik," kata Hisni.

Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah melakukan program listrik masuk desa serta membangun 21 unit pembangkit listrik tenaga mikrohidro untuk 4.797 keluarga dan pemasangan PLTS untuk 775 keluarga.
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook