Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pengganti BBM Dengan Diversifikasi Energi

BBM dan Diversifikasi Energi


Sejak awal Maret lalu, pemerintah SBY-JK (Susilo Bambang Yudhoyono
- Jusuf Kalla) secara resmi memberlakukan kebijakan kenaikan harga BBM (bahan
bakar minyak). Inilah sebuah kebijakan tidak populis sekaligus dilematis,
mengingat telah bertahun-tahun masyarakat kita telah "dininabobokan" dengan
berbagai kebijakan semu yang seolah-olah menguntungkan rakyat.

Yang jelas, harga BBM mau tidak akan tetap naik secara linear
seiring dengan meningkatnya kebutuhan konsumsi minyak bumi dunia. Yang harus
dipahami oleh masyarakat luas, subsidi harga BBM yang selama ini diberlakukan
oleh pemerintah telah memakan alokasi dana APBN (Anggaran Pendapatan Belanja
Negara) yang cukup besar.

Selama berlangsungnya krisis moneter yang dimulai
pada trisemester awal tahun 1997, alokasi subsidi untuk BBM terus membengkak
mencapai lebih dari seperempat dari keseluruhan dana belanja negara pada pada
tahun anggaran 2000.

Langkah untuk mengurangi subsidi secara bertahap telah dilakukan
dengan tujuan mengurangi ketergantungan yang terlalu besar dalam penyediaan
energi dalam negeri. Meskipun dalam tataran masyarakat sendiri, gejolak untuk
menolak kebijakan tersebut menggelinding bagai bola salju, namun pemerintah
tetap bergeming.

Naiknya harga BBM makin menyadarkan masyarakat untuk menggunakan
minyak bumi secara bijak, efektif dan efisien. Cadangan minyak bumi yang makin
menipis harusnya menjadi pemikiran untuk mencari serta mengelola sumber energi
lain untuk diberdayakan secara optimal.

Di saat harga BBM melambung tinggi,
penggunaan energi alternatif bisa menjadi sebuah pilihan baru bagi masyarakt
luas untuk menentukan sumber energi yang digunakan dengan didasarkan pada
kondisi ekonomi masing-masing.

Diversifikasi artinya menurunkan ketergantungan hanya pada beberapa
sumber energi (minyak dan gas) dan kemudian menggantikan itu dengan sumber yang
lain. Usaha ini antara lain bisa dilakukan dengan mengembangkan sumber-sumber
alternatif seperti energi matahari, angin, biomass, tenaga panas bumi, tenaga
air dan tenaga nuklir.

Secara tradisional pertimbangan terhadap penggunaan energi umumnya
dilakukan dengan melihat harga yang termurah. Namun, setelah munculnya
kesadaran masyarakat dunia untuk suatu bentuk dunia yang bersih lingkungan dan
terciptanya pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) maka
faktor harga murah saja sudah tidak menjadi populer lagi.

Sumber Energi Alternatif

Teknologi nuklir, misalnya, sejak lama telah digunakan di
negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, Prancis, dan lain-lain. Prancis
sendiri menggunakan 76,4% dari sumber energinya berasal dari energi nuklir.
Secara keseluruhan 15% dari tenaga pembangkit listrik yang digunakan adalah
dari tenaga nuklir. Hal ini berarti teknologi nuklir telah teruji dapat
digunakan sebagai sumber penghasil tenaga listrik yang andal dan aman.

Sayangnya, secara teknologi maupun sosial-psikologi masyarakat
Indonesia belum siap untuk menggunakan tenaga nuklir. Rencana pembangunan PLTN
(Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) di Pulau Madura yang sempat mencuat,
beberapa waktu lalu, hanya terbatas sebagai wacana belaka, belum ada realisasi
yang riil di lapangan.

Indonesia yang kaya dengan khazanah kelautannya menyimpan energi
air laut (ombak dan angin) yang tak ternilai harganya. Tenaga gelombang air
laut dengan fenomena pergeseran pasang dan surutnya bisa menghasilkan tenaga
listrik yang cukup besar. Sebuah penelitian dari Ridwan G (1997) memperlihatkan
bahwa pantai selatan Pulau Jawa menyimpan potensi gelombang laut yang bisa
dipakai menghasilkan tenaga listrik beberapa kilowatt.

Etanol dan bio-diesel bisa menjadi alternatif sumber energi di
bidang transportasi. Keduanya merupakan sumber energi yang ramah lingkungan.
Etanol dengan konsentrasi lebih dari 95% dapat di jadikan bahan bakar pada
kendaraan bermotor. Penggunaannya dapat digunakan secara sendiri atau dijadikan
campuran dengan bensin atau minyak solar. Penggunaan bahan campuran etanol dan
bensin (gasohol) dengan komposisi di bawah 20:80 tidak memerlukan modifikasi
sistem pembakaran.

Sumber bahan baku etanol bermacam-macam. Semua bagian tumbuhan yang
berkabohidrat bisa dijadikan sebagai bahan pembuatan etanol. Setiap satu ton
singkong dapat menghasilkan anatra 172-194 liter etanol 100%. (Adam and Flynn,
1982). Padahal rata-rata produktivitas tanaman singkong sekitar 12 ton per
hektar (BPS), sehingga dalam satu tahun ada 2.150 liter etanol yang dihasilkan
oleh satu hektar kebun singkong. Bukankah ini potensi yang luar biasa?

Bio-diesel merupakan jenis bio energi lainnya yang diperoleh dari
minyak nabati. Campuran bio-diesel dan minyak diesel dengan komposisi 50-50
dapat digunakan langsung pada mesin diesel tanpa harus memodifikasi. Setiap 100
pound minyak nabati dapat menghasilkan 100 pound bio diesel. (Lihat
www.biodiesel.org). Dengan produksi minyak kelapa sawit - sebagai sumber minyak
nabati - yang melimpah, potensi untuk mengembangkan bio-diesel terbuka lebar.

Energi tenaga matahari bisa menjadi sumber alternatif lainnya.
Posisi Indonesia yang berada di jalur Katulistiwa merupakan anugerah yang tiada
tara. Bayangkan, secara penuh 12 jam setiap jengkal tanah di negeri ini
memperoleh hangatnya sinar matahari. Contoh nyata penggunaan energi matahari
adalah dengan mengubahnya menjadi energi listrik. Di mana, solar cell converter
akan mengubah partikel-partikel kimia menjadi listrik.

Di beberapa daerah
terpencil di mana listrik dari PLN (Perusahaan Listrik Negara) belum
terjangkau, keberadaan solar cell bisa menjadi alternatif sumber energi
ketimbang menggunakan minyak tanah untuk menyalakan alat penerangan. Meskipun
untuk konsumsi rumah tangga, ukuran solar cell hanya menghasilkan listrik
beberapa puluh watt, namun cukup efektif dan efesien bila didasarkan dari sudut
ekonomi.

Masih banyak sumber energi alternatif lainnya yang bisa
didayagunakan secara optimal. Pemerintah harus berani membuat sebuah regulasi
yang berisi tentang aturan, standarisasi serta penggunaan energi yang tepat
guna. Teknologi yang digunakan haruslah teknologi yang menghasilkan pengganti
minyak, sebagaimana minyak adalah energi yang tidak terbarukan.

Teknologi yang
mendukung penyediaan energi yang lestari (sustainable energy supply). Teknologi
energi yang bersih dan efisien untuk mendukung pelestarian lingkungan.

Lembaga-lembaga terkait semisal Direktorat Jenderal Listrik dan
Pengembangan Energi (DJLPE), Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (DJ
Migas), Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi (BPPT), Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal), Badan Pusat
Statistik Nasional (BPS), PT PLN (Persero) dan Universitas-universitas harus
bekerjasama menentukan program, kebijakan, penggunaan serta re-sourcing energi
untuk jangka panjang.

Kebijakan energi harus diarahkan untuk semakin mengurangi pemakaian
energi yang tak terbarukan dan meningkatkan penggunaan energi yang terbarukan.
Untuk memenuhi kebutuhan energi penduduk di masa mendatang maka mau tidak mau
pengembangan sumber energi berupa gas, biomasa, dan air harus ditingkatkan pada
tingkat tertentu. ***

(Penulis adalah mahasiswa semester akhir Jurusan Teknik Fisika ITS
Surabaya,
aktif sebagai Koordinator Kelompok Studi Mahasiswa Madania,
Surabaya).


Suara Karya

BBM dan Diversifikasi Energi
Oleh Nurhadi 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook