Alpen Steel | Renewable Energy

~Pembangkit Listrik Masa Depan Berbahan Bakar EBT

Energi yang berasal dari fosil, seperti minyak dan gas bumi, sudah hampir habis.

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) optimistis pengembangan energi baru terbarukan (EBT) akan dilakukan secara optimal dan konsisten. Salah satunya, pemerintah mengupayakan sekitar 25 persen bahan bakar yang digunakan dalam pembangkit listrik di masa mendatang, terutama yang masuk dalam proyek  35.000 megawatt (MW) dapat bersumber dari EBT.

Menteri ESDM, Sudirman Said mengatakan, meski baru dalam tahap pengkajian, pihaknya akan berusaha maksimal agar EBT dapat secara optimal digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik. 

"Kami telah merencanakan, 25 persen bahan bakar pembangkit nantinya berasal dari EBT. Karena itu, kami akan berupaya untuk mendorong pengembangannya," ucap Sudirman di Jakarta, Kamis (30/7).

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi (EBTKE), Kementerian ESDM, Rida Mulyana mengungkapkan, EBT merupakan solusi energi di masa mendatang. Itu karena, menurutnya, saat ini energi yang berasal dari fosil, seperti minyak dan gas bumi, sudah hampir habis. Selain itu, EBT merupakan energi yang bebas polusi.

Perbaiki Tarif

Sebagai upaya untuk mendorong pengembangan EBT, Rida menyatakan, pihaknya telah menyusun regulasi agar investor tertarik menanamkan investasinya dalam pengembangan EBT. "Kami sudah memperbaiki ketentuan tentang tarif EBT, seperti yang berasal dari sampah, bioenergi, PLTMH (minihidro), dan PLTA (pembangkit listrik tenaga angina). Ke depan, tarif energi surya juga akan kami perbaiki. Nantinya semua tarif tidak akan ada yang kecil, semuanya dobel digit," kata Rida.

Menurutnya, perbaikan besaran tarif tersebut adalah salah satu upaya yang dilakukan Kementerian ESDM untuk merangsang masuknya investor di sektor pengembangan EBT. Ini karena, menurutnya, pemerintah menyadari bila tarif pembelian listrik dari pembangkit EBT masih rendah, tidak ada pengusaha yang berminat.

Sudirman mengapresiasi kinerja Direktorat Jenderal EBTKE yang telah berupaya agar investor dapat lebih tertarik berinvestasi di sektor energi baru. Ia berkeyakinan, dengan adanya kebijakan tarif pembelian listrik yang baru, sektor EBTKE di Tanah Air akan lebih bergairah.

"Dalam waktu dekat, kebutuhan energi di Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua sudah akan mulai dipasok menggunakan EBT. Ini semua merupakan bukti pengembangan EBT memang terus dilakukan," ujarnya.

Sudirman mengungkapkan, saat ini juga dibangun pembangkit listrik yang berasal dari EBT, seperti dari panas bumi dan energi matahari atau surya, serta bioenergi. Rencananya, pemerintah menjadikan Bali sebagai wilayah percontohan pengembangan EBT untuk memenuhi kebutuhan listrik.

Menurutnya, terpilihnya Pulau Dewata sebagai wilayah percontohan EBT dikarenakan merupakan salah satu wilayah yang dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. "Bali akan jadi contoh pusat EBT karena banyak dikunjungi orang, baik warga lokal maupun warga asing. Kami berharap Bali bisa menjadi contoh bagi wilayah lainnya," ujarnya.


Sumber : Sinar Harapan


Artikel yang berhubungan:
Baca Juga:
Artikel sebelumnya:

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook