Alpen Steel | Renewable Energy

~ Aktivitas Manusia Picu Pemanasan Global

Krisis Pemanasan Global

hari selasa 11 Desember 2007 lalu dilaksanakan penanaman pohon yang langsung dibuka oleh Wakil Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Bapak Syamsuddin Basari di Desa Air Anyir Kecamatan Merawang Bangka dalam rangka peringatan hari puspa dan satwa terhadap kepedulian nasional lingkungan untuk reklamasi lahan pasca tambang timah. Sebagaimana kita ketahui bahwa persedian hutan di Babel semakin hari semakin berkurang disebabkan oleh aktivitas manusia temtama disektor pertambangan.
Artinya, dengan kegiatan ini diharapkan memberi nilai filosofi untuk cinta lingkungan alam, karena alam merupakan bagian dari kehidupan yang patut kita lestarikan.

Tidak terlepas dari itu semua dengan isu lokal, dengan gencarnya para pemimpin dunia yang tergabung dalam 67 negara membuka Konferensi PBB tentang perubahan iklim (UNFCCC), yang berlangsung dari tang gal 3-14 Desember 2007 lalu di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Bali.

Konferensi ini mempunyai dua pesan diantaranya menyelamatkan bumi dengan membangun kesadaran terhadap lingkungan dan mencegah lingkungan lebih parah. Kedua aspek ini sangat penting sebab pemanasan global yang dipaparkan mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore sangat mengerikan. Realitanya terjadi peningkatan di permukaan bumi, permukaan air laut naik secara bertahap, seiring dengan mencairnya es di kutub dan sejumlah negara yang mempunyai tradisi salju abadi yang berdampak pada tenggealam pulau-pulau kecil di dunia.

Menurut laporan Panel Antarpemerintah Perserikatan Bangsa-bangsa mengenai pembahan iklim atau IPCC telah terjadi kenaikan suhu minimum dan maksimum bumi antara 0,5 - 1,5 derajat celcius. Terjadinya peningkatan ekstrem di kota-kota besar padat

Dengan adanya negosiasi dalam Konferensi PBB di Nusa Dua Bali diwarnai adu cara pandang teerhadap kerusakan lingkungan. Cara pandang dan asumsi kerusakan lingkungan menentukan langkah dan aksi pemulihan lingkungan untuk membangun komitmen, kontribusi, dan melakukan aksi riil ditingkat lokal hingga global
Presfektif pada Aspek Krisis

Situasi ekologi tersebut mengingatkan pada artikel Betsy Hattmann dalam buku Violent Environments (ed Peluso and Watts, 2001). Ia menyebutkan ada dua cara pandang terhadap kerusakan lingkungan. Pertama, presfektif environmental scarcity (kelangkaan), menjelaskan kerusakan lingkungan dan Renewable resources akibat dari pertambahan jumlah penduduk dan permintaan bahan pangan terus-menerus mengalami peningkatan.

Situasi seperti ini mengakibatkan kerusakan, kelangkaan sumber daya dan melahirkan konflik sosial. Konflik potensial mengacaukan keamanan, ketidakstabilan dan kemiskinan sehingga negara diperingatkan memperkuat pengamanan lingkungan (termasuk Indonesia).

Kedua, berkembang presfektif politik ekologi, yang menjelaskan kerusakan lingkungan dan konflik dengan memperhitungkan aspek politik-ekonomi. Cara pandang ini berusaha menjelaskan masalah kerusakan lingkungan dengan memperhitungkan aspek kekuasaan, keadilan distribusi, cara pengontrolan, kepentingan jejaring lokal-nasional/global, kesejahteraan, gender dan peran aktor (Peluso and Watts, 2001).

Akibat kerusakan lingkungan berdampak pada pemanasan global sebagai imbas dari penggunaan bahan bakar minyak maupun minyal mentah (CPO) yang berlebihan batas psikologis, mengindikasikan peluang terjadinya bencana lingkungan yang lebih dahsyat lagi. Penggunaan listrik dan bahan bakar fosil yang exaggrated untuk adaptasi dan proses produksi gas rumah kaca. Sedangkan pengguanaan bahan bakar biofuel untuk energi secara langsung memieu terjadinya trade off harga dan bahan pangan sehingga penduduk dengan polusi udara tinggi dan eksploitasi air tanah berlebihan yang terjadi pada siang maupun malam hari antara 0,5 sampai 2,0 derajat celcius (Kompas, 16/11).

Berubah atau Binasa

Membangun kesadaran masyarakat untuk peduli dengan adanya peran aktif terhadap lingkungan dan mencegah kerusakan yang lebih parah sebagai rujukan utama untuk lebih fokus disertakan dengan melibatkan aparatur pemerintah agar bergerak kedepan. Dengan menerapkan atura-aturan yang tegas dan jelas yang tidak ada kepentingan politik apapun atau independent.

Pilihan pahit yang harus dihadapi akibat pemanasan global sehingga berlaku pepatah If You Don’t Change You Will Die. Akibatnya ribuan manusia jadi korban sebagai dampak dari meningkat tingginya kalor (Theat Flux) di Perancis pada tahun 2003, dan hancurnya ekosistem serta tenggelamnya sawah pesisir, kota-kota besar di Jawa yang merupakan icon betapa dahsyatnya dampak perubahan iklim.

Tanpa kita sadari dalam tindakan nyata, cepat atau lambat dan pasti peradaban akan hancur ditelan pemanasan global. Apakah ini semua pertanda dunia akan kiamat? Wallahu ‘alam.

WWF memberikan icon positif yang riil terhadap perubahan budaya dimulai dari desain arsitektur rumah yang respek terhadap sinar matahari dan sirkulasi udara untuk menghasilkan indeks kenyamanan (indeks Con/ortability) penghuni dalam beraktivitas. Rumah tropis yang hemat energi dapat menurunkan konsumsi listrik sehingga sumbangan kenaikan emisi CO2 sebesar 19 persen dapat direduksi, penurunan konsumsi listrik pendingin ruangan (38 %), komputer (10 %), penanak nasi (10 %), mesin cuci (9 %), setrika (9 %), mesin air (6 %), dan lampu (5 %), harus secepat dilakukan (applicated).

Kontribusi yang dapat kita lakukan adalah tidak membuat lingkungan makin rusak, tidak terus-menerus merambah kawasan resapan air, tidak membabat hutan, tidak menutupi semua tanah dengan bangunan beton, tidak menambah polusi udara dan sebagainya. Kontribusi dengan cepat dilakukan masyarakat dapat lakukan, tetapi sebagian dalam tahap pengembangan.

Seruan Moral dan Tindakan

Kita bisa menyimak: seruan moral yang gencar dilakukan banyak pihak menjelang konferensi kemarin di Bali. Pasca pertemuan di Bogor, banyak pihak termasuk tokoh-tokoh negara asing rajin melayangkan opini di media nasional. Intinya, menjelaskan komitmen negaranya dan merayu negara berkembang untuk mulai bergerak. Kita mengapresiasikan, tetapi perhitungan yang terlampau berwajah uang perlui dikritisi. Karena krisis iklim bukan isu politik, melainkan tantangan moral dan spritual bagi seluruh umat manusia yang harus dihadapi bersama-sama.

Aksi negara maju, mendahului kampanye kesadaran moral dan mengunjuk diri melalui uang yang banyak. Hal ini berdampak pada menjauhkan kita dari krisis sesungguhnya. Situasi seperti ini diperkuat dengan prilaku negara miskin dan berkembang (termasuk Indonesia) yang memosisikan diri sebagai penggerak kocek negara maju. Kita bisa terjerat pada pilihan menyesatkan, cara mudah merampung adalah melestarikan krisis. (*)

(* Penulis Adalah Ketua Umum HMI Komisariat FPPB Dan Wakil Ketua HEM FPPB UBB)
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook